Resolusi Gaya Hidup Ramah Lingkungan ala Pelajar

Tahun ajaran baru akan segera tiba Bulan Juli mendatang, seluruh siswa mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA akan memulai kegiatan belajar di sekolah mereka. Biasanya, kita semua akan menuliskan resolusi tahunan di setiap permulaan tahun baru, bukan begitu? Namun, ada baiknya siswa juga merancang capaian akademik  yang akan mereka raih satu tahun ajaran ke depan dan dievaluasi setiap 6 bulan sekali. Manfaat dari pembuatan “goal” tersebut juga agar siswa dapat fokus dan terarah dalam kegiatan belajarnya selama satu tahun ajaran. 

Kali ini saya tidak akan membahas lebih jauh tentang capaian akademik,  akan tetapi lebih ke capaian gaya hidup ramah lingkungan selama satu tahun ajaran ke depan. Sebagai seorang siswa SMA, bukan pemandangan aneh jika teman-teman di sekolah sering membeli makanan dan minuman dengan wadah plastik. Bayangkan, jika seorang siswa membeli 1 bungkus es teh dan 1 bungkus nasi kuning setiap hari saat istirahat pertama ditambah 1 bungkus kue pada istirahat kedua. Apa yang terjadi selanjutnya? Mari kita berhitung matematis …

3 bungkus plastik/hari X 700 siswa SMA X 26 hari KBM dalam sebulan X 11 bulan KBM = 600.600

Akan ada 600.600 bungkus plastik setiap tahun ajaran dalam sebuah sekolah. Kemana bungkus plastik itu akan pergi setelah digunakan untuk membungkus makanan dan minuman? Recycle? Saya kira tidak seluruhnya. Kemungkinan besar sampah plastik tersebut akan dibuang di TPS (Tempat Pembuangan  Sementara) kemudian sebagian besar akan dibakar di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).  Akibatnya? Polusi udara dan sampah tersebut bahkan tidak dapat mengurai dalam waktu singkat. Selain pengurangan penggunaan produk yang menghasilkan single use plastic, apa saja yang dapat kita lakukan sebagai wujud penerapan gaya hidup ramah lingkungan di sekolah?

  1. Membawa botol minum dan tempat makan sendiri dari rumah.
  2. Sebisa mungkin dengan membawa botol minum dan tempat makan dari rumah, kita bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di sekolah. Akan lebih baik jika kita bisa membawa bekal nasi dan air minum sendiri dari rumah, karena kita tahu kualitas makanan dan minuman yang kita bawa. Serta Penggunaan tempat makan dan botol minum dari rumah ini , bertujuan lain agar makanan dan minuman yg kita beli dari luar dapat kita taruh didalam botol dan tempat makan yang kita bawa dari rumah sehingga dapat mengurangi secara efisien penggunaan sampah plastik. Selain itu, kita juga dapat beralih ke penggunaan sedotan stainless atau sedotan bambu untuk mengurangi produksi sampah sedotan di sekolah.
  3. Mematikan lampu, kipas angin atau alat elektronik lainnya di kelas. Setiap siswa bertanggung jawab terhadap kelasnya masing-masing. Pastikan sebelum pulang sekolah atau saat berkegiatan di luar kelas untuk mematikan lampu, kipas angin, atau alat elektronik lainnya untuk menghemat energi.
  4. Membuang sampah pada tempatnya. “Tempat” yang dimaksud adalah tempat sampah, bukan laci meja. Apabila seluruh siswa menerapkan hal ini, tentu petugas piket tidak perlu repot membersihkan kelas, mungkin cukup menyapu pasir. Ya kan?
  5. Gunakan air secukupnya. Apabila telah selesai menggunakan air, matikan keran dan pastikan air tidak menetes lagi.  Berlaku bijak dalam penggunaan air membuat  kita menghargai  anak-anak di luar sana yang harus mengantri berjam-jam untuk mendapatkan air bersih.
  6. Bersepeda/jalan kaki apabila memungkinkan. Saya yakin hampir sebagian besar siswa SMA mengendarai sepeda motor saat akan ke sekolah, terutama di kota yang minim transportasi umum. Jika rumah Sobat tidak jauh dari sekolah, apa salahnya untuk bersepeda atau jalan kaki untuk ke sekolah. 

Jangan abaikan perubahan gaya hidup seseorang. Mungkin kita berpikir “Apa dampaknya jika saya membawa botol minum ke sekolah?”. Jika seluruh manusia di dunia ini berpikir sama bahwa perubahan yang kita lakukan akan berdampak signifikan bagi kita dan lingkungan, maka penggunaan plastik sekali pakai akan sangat berkurang. Produsen plastik menghasilkan produk mereka karena ada permintaan dari konsumen. Maka dari itu, jadilah konsumen yang bijak. Semuanya dimulai dari yang termudah, sedikit-sedikit dan tidak ditunda-tunda, tetap dalam time frame yang kita bisa.

Cukup sekian tulisan kali ini, semoga kita dapat segera merancang resolusi gaya hidup ramah lingkungan di tahun ajaran baru. Sampai jumpa di artikel berikutnya dan salam lestari!

Sumber:

Dewi,  Rian Kusuma. 2018. Gini Lho Cara Hidup Eco Lifestyle Buat Millenial, diakses pada 26 Juni 2019, dari https://www.brilio.net/creator/gini-lho-cara-hidup-eco-lifestyle-buat-millenial-58c8ef.html

Hoyt , Elizabeth. 2019. 15 Easy Ways Students Can Go Green, diakses pada : 26 Juni 2019, dari  https://www.fastweb.com/student-life/articles/the-15-easy-ways-students-can-go-green

Primastiwi, Emma. 2019.  Tren Ramah Lingkungan dan Bagaimana Kita Mengembangkannya, diakses pada : 26 Juni 2019, dari https://www.whiteboardjournal.com/living/tren-ramah-lingkungan-dan-bagaimana-kita-mengembangkannya/

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+

Tinggalkan Balasan