Memanfaatkan Potensi Diri dalam Menyambut Bonus Demografi

Indonesia diprediksi akan menuai bonus demografi pada 2020-2030. Dalam rentang waktu tersebut jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan mencapai 70% dari total penduduk. Hal ini dapat menjadi peluang sekaligus tantangan jika kita tidak mampu memanfaatkan dengan baik.

Memasuki rentang waktu tersebut, kita semestinya menyiapkan diri agar bonus demografi tidak hanya sekedar capaian kuantitatif saja. Saat ini, terlihat jelas pemuda Indonesia mulai menunjukkan prestasi dan perannya dalam berbagai sektor. Dalam bidang pemerintahan saja, kita memiliki menteri berpengalaman yang berusia di bawah 50 tahun hingga staf kepresidenan milenial.

Namun, mengapa bonus demografi ini dapat dikatakan sebagai peluang masa depan? Jawabannya, karena pemuda memiliki berbagai kelebihan yang dapat didayagunakan secara maksimal. Kita −pemuda− ternyata memiliki privilege yang dapat dimanfaatkan untuk berkontribusi bidang yang kita minati dengan kemampuan seperti di bawah ini :

  1. Kreatif

Tumbuh dalam lingkungan yang dikelilingi teknologi, mendorong pemuda untuk terus menghasilkan karya terbaik agar mampu bersaing dengan kreator lain. Jika tidak mampu berinovasi, maka konsekuensinya karya akan tersisih dari persaingan.

2. Adaptif

Peran internet mendukung pemuda untuk mampu belajar skill baru yang dibutuhkan di masa depan. Bahkan beberapa pekerjaan akan digantikan oleh robot, sehingga kualitas pemuda harus mampu menyeimbangkan perkembangan teknologi yang pesat.

3. Jejaring informasi yang kuat

Media sosial tidak hanya sekedar platform berbagi foto atau video personal. Namun, media sosial mampu menyebarkan informasi secara cepat sehingga informasi dari belahan dunia lain dapat dikonsumsi oleh kita.

4. Kritis

Pemuda tidak hanya sekedar fokus dengan pendidikan dan pengembangan diri masing-masing, namun juga peka terhadap permasalahan di sekitar. Mereka berani menyampaikan pendapat dan kritik sehingga pihak-pihak terkait dapat introspeksi diri dan memperbaiki kinerja mereka.

Peserta Debat Lingkungan Pekan Peduli Orangutan Ketapang 2018 diselenggarakan Pongo Ranger Community

5. Dinamis

Tak hanya jejaring informasi yang kuat, di era media sosial seperti ini, orang-orang dapat membentuk relasi yang luas dan pertemanan yang dinamis.

6. Full of energy

Hal yang tidak kalah penting adalah semangat dalam berkontribusi para pemuda patut diancungi jempol. Mereka siap menyisihkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk menyalurkan potensi diri agar tanah kelahiran siap berkembang dan bersaing dengan daerah lain. Bahkan kontribusi pemuda sekarang lebih dari sekedar “kontribusi lokal”.

Dengan privileges yang dimiliki pemuda, maka tidak salah jika banyak komunitas berdiri dengan pemuda sebagai penggerak utamanya. Begitu juga dengan kehadiran Pongo Ranger Community. Lahir dari gagasan untuk membangun daerah di bidang pemberdayaan pemuda dan pendidikan lingkungan hidup khususnya satwa liar di Ketapang Kalimantan Barat. Pongo Ranger menjadi wadah bagi pemuda untuk berkontribusi bagi penyelamatan dan kelestarian lingkungan hidup terutama melalui pendidikan lingkungan hidup bagi sesama pemuda usia mereka maupun masyarakat secara umum. Semua anggota dapat berkembang dengan  menyalurkan potensi terbaik di divisi yang sesuai minat mereka.

Tidak ada alasan lagi bagi pemuda untuk  tidak meyalurkan potensi yang mereka miliki untuk kemajuan daerah. Kenali minat, cari lingkungan yang suportif, dan berikan kemampuanmu 100%. Saat ini, bukan kemampuan individu yang perlu di-highlight, tetapi kemampuan berkolaborasi untuk menyatukan berbagai skill berbeda untuk visi yang sama.

“Whatever you do, do it well.”

-Walt Disney-

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+

Tinggalkan Balasan