Mangrove : Kerusakan, Rehabilitasi, Manfaat, Hingga Peluang Karbon Kredit di Masa Mendatang

Indonesia memiliki sebaran ekosistem mangrove terluas di dunia, yakni 3.49 juta Ha atau sekitar 21% dari luas total mangrove dunia. Berdasarkan data One Map Mangrove, luas ekosistem mangrove yang berada di dalam kawasan hutan sebanyak 2.2 juta Ha dan yang berada di luar kawasan hutan sebanyak 1.3 juta Ha yang tersebar di 257 kabupaten atau kota. Sayangnya, saat ini luas mangrove Indonesia mengalami penurunan luasan, dimana 637.624 Ha (19.26%) dalam kondisi kritis (penutupan tajuk kurang dari 60%), sedangkan 2.673.548 Ha (80.74%) dalam kondisi baik. Dari mangrove kritis tersebut sebanyak 460.210 Ha (72.18%) berada dalam kawasan hutan dan 177.415 Ha (27.82%) berada di luar kawasan hutan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sudah memiliki program restorasi mangrove seluas 600 ribu Ha dan sedang berjalan. Dalam upaya rehabilitasi ini pemerintah juga bekerjasama dengan beberapa instansi seperti Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang akan melakukan rehabilitasi mangrove seluas 483.194 Ha (75.78%), Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) seluas 89.685 Ha (14.07%), serta Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementrian/Lembaga, CSR, dan LSM seluas 64.745 Ha (10.15%).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, saat mengunjungi lokasi penanaman mangrove di Bali pada Kamis, 25 November 2021 (Foto : Website Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi)

Ekosistem mangrove yang sehat dapat berperan untuk mencegah abrasi, menahan angin dan badai, menyaring sampah yang terdapat di sekitar mangrove, juga sebagai habitat untuk berkembang biak dan menyediakan sumber makanan bagi ikan, kepiting, udang, dll. Selain itu, mangrove juga berperan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat di Kepulauan Aru memanfaatkan hasil tangkapan kepiting bakau (Scyla serrata) yang hidup di ekosistem mangrove untuk dikonsumsi sendiri, juga diperjual belikan. Di Lorang, Aru Tengah, dalam kurun waktu seminggu, masyarakat mampu menangkap dan mengumpulkan sekitar 7-10 ekor kepiting dimana harga jual kepiting mencapai 150 rupiah per kilogram nya, sehingga dapat diperkirakan dalam kurun waktu seminggu, masyarakat disana dapat memperoleh penghasilan sebesar 1-1.5 juta rupiah.

Kepiting bakau (Scyla serrata) yang dimanfaatkan oleh masyarakat Lorang, Aru Tengah untuk dikonsumsi, juga sebagai sumber penghasilan bagi mereka (Foto : Forest Watch Indonesia)

Peran lain yang dimiliki oleh mangrove yakni sebagai penyedia ragam pangan bagi masyarakat sekitarnya. Masih di Kepualuan Aru, dimana buah Tongki yang berasal dari mangrove jenis Bruguiera gymnorrizha dapat dijadikan sebagai sumber masakan tradisional yang disebut Yengar. Tongki tersebut direbus terlebih dahulu untuk memudahkan mengelupas kulitnya, kemudian dipotong kecil dan dijemur, selanjutnya dicampur dengan parutan kelapa dan gula, dan siap disajikan. Selain Tongki, juga terdapat Tambelo (Bactronophuorus thoracites) yang dimanfaatkan sebagai cemilan. Beberapa jenis tanaman mangrove juga dapat digunakan sebagai bahan baku obat, contohnya seperti jenis Ceriops decandra dimana daunnya dapat digunakan sebagai bahan baku yang berpotensi sebagai antikanker. Ada juga R. muconata dan A. marina yang berpotensi untuk menghambat sekesi insulin oleh sel beta pancreas pada penderita diabetes.

Buah Tongki (Bruguiera gymnorrizha) di Kepulauan Aru yang dijadikan sumber masakan tradisional Yengar (Foto : Forest Watch Indonesia)

Siti Nurbaya Bakar selaku Menteri LHK menegaskan bahwa dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang telah diperbarui, Indonesia tetap berkomitmen ambisius untuk melakukan pengurangan emisi 29% dengan upaya sendiri dan dapat meningkat hingga 41% dengan dukungan internasional. Lebih lanjut, Indonesia akan melakukan rehabilitasi dan penanaman mangrove seluas 600 ribu hektar selama 2021-2024. Luhut Binsar juga mengatakan bahwa pada Konferensi Tingkat tinggi (KTT) G20 tahun 2022 di Bali mendatang, Presiden Joko Widodo akan menyampaikan pesannya kepada para pemimpin dunia terkait pentingnya restorasi mangrove untuk menghasilkan karbon kredit. Tingginya karbon kredit akan menjadi kekuatan bagi Indonesia dimana hal ini mampu menghasilkan pemasukan hingga puluhan bahkan ratusan dolar yang dapat digunakan untuk generasi kedepannya serta menciptakan lapangan kerja.

Sumber :

https://kkp.go.id/djprl/artikel/21045-konservasi-perairan-sebagai-upaya-menjaga-potensi-kelautan-dan-perikanan-indonesi

http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/pentingnya-keanekaragaman-hayati-ekosistem-mangrove

https://www.mongabay.co.id/2021/07/28/foto-mangrove-dan-fakta-pentingnya-bagi-hidup-orang-aru/

http://news.unair.ac.id/2021/05/01/terancamnya-kehidupan-mangrove-sang-penjaga-ekologi-pantai/

https://dlh.semarangkota.go.id/4-upaya-menyelamatkan-hutan-mangrove-paling-efisien/

https://maritim.go.id/kunjungi-lokasi-penanaman-mangrove-menko-luhut-indonesia-salah/

https://www.kompas.tv/article/216270/hutan-mangrove-rusak-parah-jokowi-janji-rehabilitasi-34-ribu-hektar-di-seluruh-indonesia?page=2

https://www.kompas.tv/article/216270/hutan-mangrove-rusak-parah-jokowi-janji-rehabilitasi-34-ribu-hektar-di-seluruh-indonesia

https://kkp.go.id/djprl/p4k/page/4284-kondisi-mangrove-di-indonesia

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+

This Post Has 165 Comments

Tinggalkan Balasan