Aeshnina, Aktivis Lingkungan Asal Gresik Suarakan Perangi Sampah Plastik

Aeshnina Azzahra Aqilani atau biasa dipanggil Nina, merupakan seorang pelajar di SMPN 12 Gresik. Nina yang berasal dari Gresik, Jawa Timur ini merupakan anak dari Daru Setyo Rini dan Prigi Arisandi. Ayah Nina, Prigi Arisandi, merupakan seorang aktivis lingkungan hidup sekaligus Direktur ECOTON (Ecological Observation and Wetlands Conservation), sebuah organisasi yang memiliki visi untuk terwujudnya kelestarian keragaman hayati dan keberlanjutan fungsi lingkungan hidup bagi manusia melalui pengelolaan ekosistem sungai dan lahan basah yang berkeadilan dan partisipatif. Dari penelitian yang pernah dilakukan oleh ECOTON, menunjukkan bahwa sungai-sungai di Pulau Jawa memiliki ancaman serius berupa mikroplastik yang mencemarinya. Sampel air yang diuji diantaranya berasal dari Sungai Brantas, Bengawan Solo, Ciliwung dan Citarum menunjukkan adanya mikroplastik.

Sejak kecil, Nina sudah memiliki kepedulian terhadap lingkungan dimana hal ini tak lepas dari apa yang diajarkan oleh orangtuanya. Di usianya yang masih sangat muda itu Nina sudah sering mengikuti kampanye, utamanya yang menyuarakan bahaya sampah plastik yang telah mencemari lingkungan sungai, salah satu kampanye yang diikutinya yaitu kampanye bebas dari plastik di Sungai Tambak Wedi, Surabaya. Pada 2019 lalu, ia juga pernah mengirimkan surat kepada empat kedutaan negara yang sampahnya masuk ke Indonesia, diantaranya yakni kepada Perdana Menteri Kanada, Jerman, Australia serta Presiden Amerika Serikat kala itu, yakni Donald Trump mellai Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya, untuk menghentikan ekspor sampah plastik secara ilegal ke Indonesia.

Selain itu, pada 17-22 Agustus 2020 lalu, Nina juga pernah mengikuti ekspedisi susur sungai dengan rute yang melewati 30 desa dan kelurahan di 10 kecamatan, mulai dari Mojokerto, Gresik, Sidoarjo, dan Surabaya bersama Perempuan Pejuang Kali Surabaya (PPKS). Ekspedisi ini bertujuan untuk melihat tumpukan sampah, jumlah bangunan ilegal di bantaran sungai, dan nantinya dibuat laporan kegiatan yang digunakan untuk dasar gugatan pemulihan kondisi sungai yang tercemar kepada pemerintah dan pihak yang berkaitan.

Aeshnina saat melakukan ekspedisi susur sungai day 3 di Kali Porong. Ia menemukan limbah pabrik yang mencemari Kali Porong serta 856 pohon yang tersangkut sampah plastik dan 526 tumpukan-tumpukan sampah. (Foto : instagram Aeshina, @aeshnina)

Tak hanya berhenti disitu, pada 12 Oktober 2021 kemarin, Nina juga menghadiri Plastic Health Summit 2021 yang diadakan oleh Plastic Soup Foundation di Amsterdam. Disana ia menjadi salah satu pembicara yang menceritakan perjuangannya dalam menyuarakan sampah plastik yang mencemari lingkungannya, termasuk sumber pangan yang ia dan teman-temannya konsumsi. Di Amsterdam, Nina juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi Plastic Recycling Center, yang merupakan satu-satunya pabrik daur ulang plastik disana. Ia mengatakan bahwa pabrik ini hanya mampu mengolah 80% sampah dan sisanya dikirim ke landfill atau dibakar. Dari semua sampah yang dikumpulkan disana hanya terdapat 60% sampah plastik, serta untuk membuat produk baru dari daur ulang sampah plastik harus memakai 50% biji plastik baru dengan mesin canggih dimana ia menyimpulkan bahwa recycle membutuhkan banyak energi, uang, waktu dan tetap saja menghasilkan limbah, oleh karena itu cara terbaik adalah dengan mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Setelah berkunjung ke Amsterdam, Nina melanjutkan perjalanannya ke Glasglow, Skotlandia. Disana ia menghadiri Konferensi Perubahan Iklim PBB yang ke-26, atau Change Conference of the Parties 26 (COP26) atas undangan resmi dari United Kingdom Without Incineration (UKWIN). COP 26 merupakan pertemuan negara-negara pihak pada konvensi PBB mengenai perubahan iklim yang dilaksanakan pada 31 Oktober hingga 12 November 2021 dan menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap, serta menjanjikan lebih banyak uang untuk negara-negara berkembang. Bersama Breakfreefromplastic dan beberapa aktivis lainnya yang merupakan Koordinator Breakfreefromplastic dari Eropa, Amerika Serikat, India, serta Koordinator Africa Youth, Global Alliance for Incinerator Alyetnatives Africa, Nina  turut berkampanye sebagai aksinya dalam menolak penggunaan plastik sachet. Dalam beberapa postingannya melalui platform instagram, Nina berpesan untuk mengurangi penggunan plastik sekali pakai.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+

This Post Has 164 Comments

  1. לרוב הגברים כמו כל צרכן ישראלי מצוי חשוב להרגיש שיש תמורה למחיר ובהקשר זה חשוב לציין כי ההנאה מן המוצר מורגשת גם בשלב שבו אתה צורך אותו וגם באופן שבו הוא משפר את חיי המין שלך כמכלול. שירותי ליווי

Tinggalkan Balasan